EKONOMI 

Investor bakal Wait and See di Tahun Politik? Ini Kata Ekonom

Beritaterkini99 – Hajatan politik berlangsung di 2019, yaitu pemilihan legislatif dan pemilihan presiden-wakil presiden. Investor biasanya memilih wait and see alias menahan rencana investasi sambil menunggu hasil pemilihan umum.

Dengan kata lain tahun politik bakal mempengaruhi laju investasi di Indonesia, namun pandangan itu ditepis para ahli. Mereka sepakat tahun politik tak lagi mempengaruhi kondisi ekonomi.

“Keamanan dan politik itu ada reaksi tersendiri. Kalau mau buktikan harus ditarik dari 2004. Sempat ada bom di Jakarta, pusat ekonomi, tapi tidak ada pengaruh (ke pasar modal),” kata Peneliti Senior Bidang Ekonomi Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero dalam acara Indonesia Investment Conference & Exhibition (IICE) 2018 di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Memang, kata Poltak, setiap kali tahun politik timbul kecenderungan investor lebih wait and see, namun pengaruh yang jauh lebih besar terhadap pasar modal adalah gejolak ekonomi global.

“Jadi mungkin kita harus menjauhkan pandangan bahwa politik punya pengaruh langsung ke ekonomi, tidak! Ekonomi Indonesia bereaksi pada kondisi global,” tambahnya.

Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya meyakini perputaran uang di 2019 akan lebih besar dari tahun-tahun politik sebelumnya. Sebab pemilihan presiden dan pemilihan legislatif pusat hingga ke daerah dilakukan secara berbarengan.

“Konsumsi saat tahun politik itu meningkat. Penggunaan cash jauh lebih banyak. Ada 26 ribu caleg, dikalikan saja satu orang bisa berapa,” tambahnya.

Yunarto yakin pelaku pasar akan melihat peluang itu. Jika memang ada gejolak nantinya, dia yakin investor memiliki logika yang berbeda.

Sementara Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan memprediksi Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate 2 kali di tahun depan, namun itu tergantung, jika tekanan terhadap rupiah besar maka kemungkinan kenaikan suku bunga acuan akan bertambah.

Dari sisi inflasi, Ekonom Bank Mandiri memprediksi laju inflasi Indonesia di 2019 bisa mencapai 4,5%. Inflasi lebih tinggi dengan pemicu kemungkinan adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

“Jadi setelah pemilu kalau petahana yang menang mereka akan menaikkan harga BBM. Jadi proyeksi kita inflasi 4,5%,” tambahnya.

Dengan kondisi seperti itu, Anton memperkirakan pertumbuhan ekonomi di tahun depan akan sedikit menurun, tapi masih di atas 5%

“Pertumbuhan ekonomi masih akan melambat dari tahun ini, tapi masih akan di atas 5%, sekitar 5,1%,” ujarnya.

Related posts